SIKAP PEKERJA & KEPUASAN KERJA
Setiap orang yang bekerja, baik di perkantoran, sekolah maupun Lembaga-lembaga lainnya pasti mengharapkan adanya kepuasan yang diperoleh dari pekerjaannya tersebut.
Kepuasan kerja adalah hal yang individual yang dimiliki oleh setiap pekerja, tingkat kepuasannya pun berbeda pada setiap orang. Semakin banyak kesesuaian antara pekerjaan dengan apa yang diharapkannya akan semakin tinggi pula kepuasan kerja yang dirasakannya. Demikian pula sebaliknya semakin sedikit kesesuaian antara pekerjaan dengan apa yang diharapkannya akan semakin rendah pula kepuasan kerja yang dirasakannya.
Contohnya saja Para atlet olahraga di negara kita.
Para atlet merasakan kepuasan atas pekerjaannya itu. Seperti dalam korelasi kepuasan kerja yaitu motivasi dan prestasi kerja.
Dengan motivasi mereka akan berusaha untuk melakukan sesuatu agar dapat mencapai kepuasan dari pekerjaannya tersebut. Contohnya saja memperoleh medali emas dari setiap ajang pertandingan, terlebih lagi pertandingan yang bergengsi akan membuat para atlet merasa puas akan usahanya. Inilah yang dinamakan prestasi kerja, dengan adanya prestasi kerja yang dihasilkan maka akan membuat para atlet menjadi lebih produktif lagi sehingga memperoleh kepuasan kerja. Tentu saja prestasi kerja ini pun di berikan reward yang dapat membuat para atlet menjadi termotivasi lagi seperti bonus, upah ataupun hadiah yang membuat mereka mencapai kepuasan atas hasil kerjanya.
Selain itu, kepuasan yang mereka dapatkan pula sebagai atlet yaitu lingkungan asrama Pelatnas yang menunjang untuk berkembanganya potensi mereka, aman, nyaman dan hubungan yang harmonis dengan sesama penghuni asrama Pelatnas. Dukungan dari ketua dalam bidang olahraga yang terkait maupun Menpora juga bisa membangkitkan motivasi mereka sekaligus puas terhadap pekerjaannya karena mendapatkan dukungan sepenuhnya. Dan ini sesuai dengan Teori Kepuasan Kerja yaitu teori dua faktor yaitu Motivators ( faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari prestasi, pengakuan, wewenang, tanggungjawab dan promosi ) dan hygiene Factors ( faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber kepuasan, terdiri dari gaji, insentif, pengawasan, hubungan pribadi, kondisi kerja dan status ).
Terdapat hubungan antara pelaksanaan kerja dan kepuasan kerja, menurut Schemerhorn yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
Disamping kepuasan kerja, para atlet yang masih aktif juga merasakan adanya ketidakpuasan dari pekerjaan yang digelutinya. Beberapa contoh dari ketidakpuasan itu seperti tidak dimasukkannya nama mereka dalam pertandingan yang bergengsi seperti SEA Games, kurangnya pengembangan potensi yang dilakukan oleh Pelatnas, dan lain-lain. Yang akhirnya menimbulkan suatu tindakan yang tidak diharapkan seperti agresi, keluarnya atlet dari Pelatnas dan lebih memilih berlatih ditempat lain, pindah menjadi atlet di luar negeri dan lainnya. Hal ini sesuai dengan Teori Perbandingan Intrapersonal, dalam teori ini dijelaskan bahwa adanya perbedaan atau kesenjangan yang dirasakan oleh individu antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaannya menyebabkan ketidakpuasan kerja. Terlebih lagi para atlet yang sudah pensiun. Mereka merasa tidak puas karena seluruh hasil perjuangannya selama menjadi atlet olahraga ternyata tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka berikan dalam mengukir prestasi selama mereka menjadi seorang atlet. Bahkan ada yang bermasalah dengan uang pensiunan mereka. Sehingga sejak mereka pensiun, mereka harus pintar-pintar dalam bertahan hidup. Misalnya saja menjadi pelatih.
Dalam menangani ketidakpuasan ini dapat ditangani dengan cara seperti mengadakan pengkajian mendalam apa saja faktor-faktor eksternal para atlet yang memengaruhi kepuasan kerja, motivasi kerja, dan kinerja dan juga dilakukan evaluasi di dalam periode waktu tertentu. Sehingga dengan melakukan cara seperti ini ketidakpuasan yang dirasakan para atlet dapat diminimalisir.